Friday, 1 May 2009

SURETY BOND


Surety Bond Adalah suatu bentuk Penjaminan dimana Asuransi menjamin Principal (kontraktor/vendqr/supplier/ konsultan/perusahaan) akan melaksanakan kewajiban atas suatu prestasi / kepentingan kepada Obligee (Bouwheer / Beneficiary) sesuai kontrak/perjanjian antara Principal dan Obligee dan atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pihak-pihak yang terkait dalam Suretyship
Pihak-pihak yang terkait dan hubungan-hubungannya dalam Suretyship digambarkan sebagai berikut:


Principal, adalah pelaksana pekerjaan yang mendapat pekerjaan dari pemilik pekerjaan (Obligee) dan membutuhkan jaminan dari penjamin (Surety)
• Dalam Construction Contract Bond, Principal adalah konstraktor bangunan
• Dalam Supply Contract Bond, Principal adalah penyalur barang/ Supplier
• Dalam Custom Bond, Principal adalah importir yang terkena kewajiban membayar Bea Masuk
Obligee, adalah pemilik pekerjaan yang menyerahkan pelaksanaan pekerjaan kepada Principal yang mempersyaratkan adanya jaminan dari pihak ketiga (Surety Company). Obligee dapat berupa perorangan, perusahaan, instansi pemerintah atau lembaga-lembaga lainnya.
Surety, adalah perusahaan asuransi kerugian yang menerbitkan jaminan (Surety Bond) atas permintaan Principal untuk menjamin pembayaran kepada Obligee apabila Principal tidak dapat menyelesaikan sesuai kontrak antara Principal dan Obligee.

Jenis-jenis Suretyship
• Bid/ Tender Bond,
Merupakan jaminan yang digunakan untuk mengikuti tender sebagai salah satu persyaratan dokumen penawaran yang berisi jaminan surety untuk memberikan ganti rugi apabila principal mengundurkan diri
• Performance Bond
Merupakan jaminan atas kesanggupan Principal untuk melaksanakan / menyelesaikan perkerjaan sesuai dengan kontrak kerja yang telah ditetapkan.
• Advance Payment Bond
Merupakan taminan yang digunakan pada saat Principal mengambil Uang Muka yang disediakan Obligee untuk memulai pekerjaannya. Berisi jaminan Surety untuk mengembalikan uang muka yang telah diterima Principal untuk melaksanakan pekerjaan apabila Principal gagal melaksanakan pekerjaan dan tidak dapat mengembalikan uang muka tersebut.
• Maintenance Bond
Merupakan jaminan dari Surety terhadap pemeliharaan atas hasil pekerjaan yang diselesaikan oleh Principal sampai batas waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak.
• Jaminan Turunan Lainnya Terkait Dengan Kontrak Induk
Seperti : Jaminan Down Payment, jaminan Instalment Sales Bond, Jaminan Sewa Mat Berat, Jaminan Progress Payment.
• Contra Bank Garansi
• Supply Bond
• Customs Bond
Jaminan atas pungutan Negara dalam bentuk Bea Masuk (BM). Bea Masuk Tambahan (BMT), Pajak Pert-ambahan Nilai (PPN) dan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPn-BM) serta pajak yang dipungut oleh Bendahara Negara atas kegiatan usaha yang berkaitan dengan ekspor / impor (Pph Pasal 22) yang pembebanannya diberikan kepada produsen barang-barang untuk diekspor kembali.
• Customs Bond - Voorruitslag
• Customs Bond - OB - 23
• Customs Bond - EPTE
• Customs Bond - untuk perusahaan pengurusan jasa kepabeanan (PPJK)
• Customs Bond - Angkut Lanjut
• Jaminan Pembayaran Angkutan Udara
• Jaminan Pembayaran
• Excise Bond
Jaminan atas pungutan Negara yang dikenakan terhadap produsen dan importir barang kena cukai (BKC) yang diproduksi oleh industri Etanol dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) ataupun hasil tembakau .

ASURANSI EKSPOR


Asuransi Ekspor adalah jenis asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Eksportir terhadap kemungkinan risiko kerugian akibat tidak menerima pelunasan pembayaran dari Importir atau Bank pembuka L/C yang disebabkan oleh Risiko Komersial dan/atau Risiko Politik.

Manfaat ASURANSI EKSPOR
Manfaat Bagi Eksportir
• Memberikan perasaan aman kepada Eksportir dalam menghadapi risiko ekspornya, serta meningkatkan keberanian untuk menembus pasar ekspor yang baru dengan biaya premi yang sangat ringan.
• Eksportir dapat menawarkan atau memenuhi keinginan Importir untuk menggunakan terms of payment dengan syarat pembayaran yang lunak (non L/C) namun relatif memiliki risiko pembayaran lebih tinggi seperti Documents Against Acceptance (D/A), Documents Against Payment (D/P) dan Open Account (O/A), risiko ini dapat dipertanggungkan pada Asuransi .
• Eksportir dapat memenuhi permintaan pasar yang berasal dari Importir di negara dengan tingkat country risk yang relatif tinggi.
• Eksportir dapat menggunakan Asuransi Ekspor dalam rangka memperoleh pembiayaan diskonto wesel ekspor (post-shipment export financing) dimana Asuransi Ekspor merupakan jaminan tambahan kepada bank.
Manfaat Bagi Bank
• Memudahkan perbankan memberikan pembiayaan ekspor pasca pengapalan (post-shipment export financing) melalui diskonto tagihan ekspor / wesel ekspor yang dimiliki eksportir.
Bank yang memperoleh surat pelimpahan hak ganti rugi (SPHGR) dari Eksportir akan memperoleh manfaat dalam bentuk adanya nilai tambah terhadap wesel ekspor yang di diskonto oleh Bank, dimana telah diasuransikan risiko pembayaran dari Importir oleh Asuransi. Risiko yang Ditanggung
Risiko Komersial
• Importir pailit (bangkrut)
• Importir tidak membayar (cidera janji)
• Importir menolak menerima barang
Risiko Politik
• Larangan transfer
• Pembatasan quota impor
• Pencabutan izin usaha impor
• Perang atau tindakan permusuhan lainnya
Dasar Perhitungan Premi
Besarnya premi dihitung berdasarkan risiko yang terkait dengan:
• Kelas Negara Asal Pembayaran Ekspor atau Negara Importir
• Cara pembayaran dari Importir (L/C atau Non-L/C)
• Jangka waktu pemberian kredit (Tenor �maksimum 360 hari)
Terms of Payment
Asuransi dapat menutup pertanggungan atas transaksi ekspor yang menggunakan Terms of Payment yang dijamin L/C (Sight L/C dan Usance L/C) ataupun yang tidak dijamin L/C (Documentary Collection seperti D/A, D/P, CAD serta O/A)
Besar Ganti Rugi
Asuransi akan membayar ganti rugi sebesar maksimum 85% dari kerugian, sedang sisanya sebesar 15% ditanggung oleh Eksportir.
Limit Pertanggungan
Asuransi menetapkan ketentuan Limit Pertanggungan untuk setiap Importir yaitu jumlah nilai maksimal tagihan ekspor dan terms of payment yang dapat digunakan Eksportir kepada setiap Importir.
Limit Pertanggungan ditetapkan oleh Asuransi berdasarkan kredibilitas Importir, pengalaman dagang Eksportir dengan Importir, terms of payment yang digunakan dan Kelas Negara Importir.
Pelimpahan Hak Ganti Rugi
Asuransi Ekspor dapat digunakan sebagai jaminan tambahan dari Eksportir kepada Bank atau Lembaga Keuangan lainnya dalam rangka diskonto wesel ekspor. Eskportir telag menerima pembiayaan diskonto wesel ekspor dari bank, dengan demikian apabila terjadi kerugian akibat buyer di luar negeri tidak membayar tagihan ekspor, maka hak ganti rugi dari Asuransi telah dilimpahkan dari eksportir kepada bank. Untuk itu Eksportir wajib menandatangani Surat Pelimpahan Hak Ganti Rugi kepada Bank.

Pemulihan Kerugian
Dengan dibayarnya ganti rugi dari Asuransi kepada Eksportir tidak menghilangkan kewajiban pembayaran Importir terhadap Eksportir. Setiap pembayaran Importir dibagi secara proporsional antara Asuransi dan Eksportir sesuai dengan besarnya share ganti rugi Asuransi.

Dengan jaminan Asuransi, mendorong pihak perbankan untuk lebih berani memberikan pembiayaan pasca pengapalan (Post Shipment Financing) kepada eksportir, walaupun ekspor tersebut dilaksanakan dengan media Non L/C.
Melalui produk ini eksportir dapat memenuhi kebutuhan modal kerja dan cash flow.
Pengertian Asuransi Eskpor Financing
untuk menjamin negosiasi Tagihan Ekspor untuk wesel ekspor:
a. Atas dasar Usance L/C dari non correspondent banks
b. Atas dasar Document Against Acceptance (D/A)
c. Atas dasar Document Against Payment (D/P)
d. Atas dasar Open Account.
Manfaat AE Financing
a. Eksportir memperoleh perlindungan terhadap kemungkinan tidak tertagihnya piutang eksportir yang disebabkan oleh risiko komersial dan atau risiko politik.
b. Eksportir menjadi lebih berani untuk menerima transaksi pembayaran yang lebih kompetitif (non-L/C) karena adanya cover Asuransi sebagai penjamin.
c. Eksportir menjadi lebih yakin dalam mengembangkan pasar ekspornya karena analisa kemampuan pembeli di luar negeri telah dilakukan oleh Asuransi.
d. Dalam hal terjadi wanprestasi oleh pembeli di luar negeri, eksportir masih dapat melunasi kewajibannya kepada bank karena adanya sumber pelunasan berupa pembayaran ganti rugi dari Asuransi.
Kriteria Pertanggungan
a. Tagihan ekspor didukung oleh B/L, Invoice & dokumen lainnya, dan akseptasidari pihak buyer.
b. Pada waktu pembiayaan, barang telah dikirim dalam periode tidak melebihi 6 minggu.
c. Tagihan ekspor tidak berasal dari ekspor jasa, perdagangan perantara atau barang konsinyasi.
d. Tenor tagihan maksimal 180 hari dari tanggal B/L.


Risiko yang ditanggung
Risiko komersil : Buyer menjadi Insolvensi atau tindakan wanprestasi yang bukan disebabkan oleh adanya kesalahan dari pihak eksportir.
Risiko politik : Perang, pemberontakan, larangan impor/ekspor/transfer devisa.
Kriteria Debitur / Eksportir
a. Memiliki Pengalaman transaksi ekspor dengan pembeli yang sama dengan track record positif.
b. Mempunyai keunggulan komparatif di sektor industrinya dan kelayakan untuk mendapatkan pembiayaan bank.
c. memenuhi persyaratan dari Bank (negotiating Bank) dan Asuransi serta bersedia memenuhi segenap ketentuan yang dipersyaratkan.
d. Telah adanya akseptasi dari buyer atas tagihan ekspor yang hendak dinegosiasikan.

Kriteria Debitur / Eksportir
Tata Cara Penutupan
a. Bank menyampaikan cover letter dengan melampirkan : Aplikasi eksportir/data buyer, Credit memo dan Laporan Keuangan Perusahaan Eksportir.
b. Asuransi menerbitkan limit pertanggungan untuk setiap buyer yang disetujui.
c. Bank dapat melaksanakan pembiayaan dan menyampaikan deklarasi kepada Asuransi dengan melampirkan kelengkapan dokumen : Copy B/L dan akseptasi buyer.
d. Asuransi melakukan penagihanBagaimana penetapan Limit Pertanggungan?

Bagaimana penetapan Limit Pertanggungan?
Asuransi menetapkan ketentuan Limit Pertanggungan untuk setiap Importir yaitu jumlah nilai maksimal tagihan ekspor dan terms of payment yang dapat digunakan Eksportir kepada setiap Importir.
Limit Pertanggungan ditetapkan oleh Asuransi berdasarkan kredibilitas Importir, pengalaman dagang Eksportir dengan Importir, terms of payment yang digunakan dan Kelas Negara Importir.

ASURANSI KREDIT


• Merupakan proteksi yang diberikan pihak Asuransi ( penanggung) kepada Bank (selaku tertanggung) atas risiko kegagalan Debitur di dalam melunasi fasilitas kredit atau pinjaman tunai (cash loan) seperti kredit modal kerja, kredit perdagangan dan lain-lain yang diberikan oleh Bank.
• Bersifat bi-party agreement antara Bank dengan Asuransi . Dalam hal ini Debitur tidak termasuk para pihak dalam perjanjian pertanggungan atas kredit yang disalurkan bank kepada Debitur.
Apa saja jenis-jenis Asuransi Kredit?
Produk asuransi kredit digolongkan sebagai berikut :
A. Asuransi atas Pinjaman Tunai (Cash Loan):
1. Asuransi Kredit Modal Kerja
Diberikan oleh Perbankan (KMK/Transaksional)
2. Asuransi Kredit Modal Kerja Ekspor
Diberikan oleh Perbankan untuk kegiatan ekspor (KMKE/Pre-shipment Export Financing)
B. Penjaminan atas Pinjaman Tidak Tunai (Non Cash Loan)
1. Jaminan Pembukaan L/C Impor
Jaminan yang diberikan oleh pihak Asuransi kepada Bank Pembuka L/C Impor untuk kepentingan applicant dalam hal terjadi kegagalan pembayaran L/C Impor (payment default).
2. Jaminan Pembukaan SKBDN
Jaminan yang diberikan oleh pihak Asuransi kepada Bank Pembuka SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri / L/C Impor) untuk kepentingan applicant dalam hal terjadi kegagalan pembayaran SKBDN (payment default).
3. Jaminan Ulang Bank Garansi (Counter Guarantee)
Jaminan yang diberikan pihak Asuransi kepada Bank Penerbit Bank Garansi untuk kepentingan nasabah (debitur) apabila nasabah mengalami wanprestasi.
Manfaat Asuransi Kredit dan Penjaminan Kredit

a. Bagi Perbankan
• Transaksi yang tidak bankable menjadi bankable
Transaksi yang tidak bankable karena tidak memenuhi persyaratan collateral akan tetapi feasible dapat dibantu dengan adanya asuransi kredit dari Perusahaan Asuransi . Asuransi atau penjaminan kredit dari pihak Asuransi dapat menggantikan sebagian collateral yang diperlukan perbankan dalam mendukung pemberian kredit kepada sektor riil.
Untuk transaksi non-cash loan khususnya, tergantung kepada penilaian risiko berdasarkan risks assessment pihak Asuransi yang juga mempertimbangkan risks analysis dari bank, pihakAsuransi dapat memberikan:
1. Pertanggungan 70% sampai 100% dari nilai non-cash loan yang diberikan oleh bank;
2. Persyaratan collateral yang lebih ringan bagi nasabah (misalnya cash collateral 20% sampai dengan 40%, ditambah fixed assets atau fiducia atas stock).
• Mengurangi risks premium sehingga lending rate dapat lebih kompetitif
Risiko kredit yang dialihkan kepada perusahaan asuransi dapat diperhitungkan sebagai penurunan unsur risiko dalam pricing suku bunga (mengurangi risks premium).
• Pengurangan bobot ATMR 50%
Bobot ATMR atas kredit yang diasuransikan atau dijaminkan kepada perusahaan asuransi di bidang asuransi dan penjaminan kredit dihitung sebesar 50% (lima puluh persen), sehingga semakin besar kredit yang diasuransikan atau dijaminkan ke perusahaan asuransi I akan dapat memberikan pengaruh positif kepada perhitungan CAR perbankan.
• Fee-based income dan penempatan cash collateral
Bank dapat mengembangkan fee-based income (fasilitas non-cash loan), dan cash collateral akan ditempatkan pada bank sehingga bank dapat menarik manfaat dari penempatan deposito pada bank.
• Safety net perbankan � menghindari 100% own retention
Dengan memanfaatkan fasilitas perusahaan asuransi , Bank telah mengembangkan strategic parthership yang kuat dengan salah satu jaring pengaman (safety net) perbankan terhadap risiko atas kredit yang disalurkannya. Bank tidak harus menanggung sendiri keseluruhan beban kerugian (100% own retention) yang dalam jangka panjang dapat berakibat catashtropical risks, dengan cara mengalihkan kemungkinan risiko kerugian kepada perusahaan asuransi . Second opinion dalam analisa pemberian kredit
Perusahaan Asuransi melakukan risks assessment terhadap pertanggungan yang akan diberikan perbankan kepada pihak asuransi . Dengan demikian bank akan memperoleh second opinion daripihak asuransi sebagai lembaga penjaminan kredit sebelum suatu credit line diberikan kepada debitur
• Clients referrals
Perusahaan asuransi akan dapat memberikan referrals atas nasabah-nasabah yang memiliki track record baik untuk dapat memanfaatkan fasilitas bank.
• Fungsi intermediasi perbankan meningkat
Bank-bank lebih kompetitif, berani dan bergairah di dalam menyalurkan kredit kepada sektor riil termasuk usaha yang bergerak dalam kegiatan ekspor non-migas, dengan adanya proteksi kredit serta incentive (non-subsidi, berupa antara lain, adanya jaminan atas risiko kredit dengan biaya rendah, perhitungan ATMR serta pengurangan risks premium, transaksi yang non-bankable dapat menjadi bankable). Dengan demikian fungsi intermediasi perbankan khususnya untuk pembiayaan sektor riil akan dapat ditingkatkan yang akan tercermin dari tingkat LDR.
Bagi Sektor Riil / Debitur
• Sektor riil akan terbantu likuiditasnya.
• Competitiveness sektor riil akan terbantu melalui:
1. Likuiditas yang cukup serta fasilitas kredit dengan tingkat bunga yang lebih baik, karena adanya pembiayaan bank yang didukung oleh perusahaan asuransi
2. Kemampuan sektor riil khususnya yang berorientasi ekspor di dalam penetrasi ke pasar-pasar non-tradisional yang risikonya umumnya lebih tinggi, dapat didukung dengan adanya proteksi Asuransi ;
3. Eksportir dapat lebih berani menawarkan terms of payment yang lebih lunak misalnya Usance L/C atau Non-L/C dengan adanya proteksi Asuransi .
• Sektor riil termasuk usaha ekspor dapat meningkatkan usahanya dengan lebih kompetitif, leluasa dan lebih aman.
• Sektor riil pada umumnya terbantu, termasuk sektor riil yang berorientasi ekspor semakin kompetitif, sehingga ekspor non-migas dapat diharapkan meningkat lebih baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan cadangan devisa negara, dan kondisi industri serta investasi membaik.
• Lapangan kerja baru tercipta sehingga mengurangi tingkat pengangguran.

ASURANSI REKAYASA (Engineering Insurance)


Asuransi yang menjamin kerusakan atau kerugian akibat kerusakan material dan tanggung jawab terhadap pihak ketiga selama masa pembangunan (construction) atau pada saat pemasangan (erection), serta kerusakan atau kerugian pada peralatan mesin atau elektronik.

Secara umum, jenis-jenis asuransi rekayasa (Engineering Insurance) dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu Asuransi Engineering Proyek dan Asuransi Engineering Non Proyek:

Ada dua macam pertanggungan (polis) untuk Engineering Proyek, yaitu:

• Asuransi Konstruksi (Contractor All Risks / CAR)
Asuransi CAR memberikan jaminan atas kerusakan atau kerugian objek yang dipertanggungkan pada saat pelaksanaan pembangunan konstruksi dan selama masa pemeliharaan. Selain itu, jaminan juga diberikan atas tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga selama aktifitas pembangunan konstruksi tersebut. Contoh: pembangunan jalan, jembatan, gedung, dll.

• Asuransi Pemasangan (Erection All Risks Insurance / EAR)
Asuransi EAR memberikan jaminan atas kerusakan atau kerugian objek yang dipertanggungkan pada saat pemasangan konstruksi dan selama masa pemeliharaan. Selain itu, jaminan juga diberikan atas tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga selama aktifitas pemasangan konstruksi tersebut. Contoh: pemasangan mesin pabrik, pemasangan antena, dll.

Ada beberapa Jenis pertanggungan untuk Engineering Non Proyek, yaitu:

• Asuransi Peralatan Elektronika (Electronic Equipment Insurance / E.E.I)
Asuransi EEI memberikan jaminan atas kerusakan atau kerugian atas peralatan elektronik akibat bahaya yang datangnya dari luar, misalnya short circuit, kebakaran, dll. Contoh: asuransi peralatan studio televisi, CCTV, peralatan telekomunikasi, dll

• Asuransi Kerusakan Mesin (Machinery Breakdown Insurance / M.B)
Asuransi MB memberikan jaminan atas kerusakan atau kerugian atas mesin-mesin yang rusak atau berhenti beroperasi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin itu sendiri dan bukan berasal dari bahaya yang datangya dari luar. Contoh: asuransi mesin-mesin pabrik, refrigerator, dll.

• Loss of Profit following Machinery Breakdown (M.L.O.P) Insurance
Asuransi MLOP memberikan jaminan atas kehilangan keuntungan kotor (Gross Profit) yang timbul dari rusaknya mesin-mesin, refrigerator dan mesin-mesin lain yang dijamin dibawah polis asuransi Machinery Breakdown.
• Boiler & Pressure Vessel Insurance
Asuransi ini menjamin kerugian akibat meledaknya boiler (ketel uap) atau pressure vessel (bejana tekan). Jaminan yang diberikan antara lain kerusakan pada objek yang dipertanggungkan, kerusakan pada harta benda milik Tertanggung, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga baik berupa cidera badan atau kerusakan property.
• Deterioration of Stock (D.O.S) Insurance
Asuransi D.O.S memberikan jaminan kerugian atas pembusukan barang-barang di dalam ruangan pendingin akibat kerusakan mesin pendingin. Untuk bisa mendapatkan jaminan klaim asuransi ini, maka mesin pendingin tersebut harus diasuransikan di bawah polis Machinery Breakdown.

• Civil Engineering Completed Risk (C.E.C.R) Insurance
Asuransi ini memberikan jaminan untuk pekerjaan sipil yang selesai dibangun seperti jembatan, bendungan, pelabuhan, dan bangunan sipil lainnya. Jaminan yang diberikan polis ini antara lain kerusakan akibat kebakaran, gempa bumi, banjir, tanah longsor, badai, dll.

• Asuransi Peralatan Berat (Contractor's Plant and Machinery / CPM)
Asuransi CPM ini memberikan jaminan atas kerusakan atau kerugian pada alat-alat berat yang digunakan yang disebabkan oleh bahaya tabrakan, terguling, pencurian, bencana alam, dll. Contoh: asuransi untuk traktor, excavator, buldozer, dll.

ASURANSI KERUGIAN

Asuransi Harta Benda (Property Insurance)

Asuransi yang menjamin kerusakan atau kerugian pada harta benda akibat kebakaran, bencana alam, kerusuhan, atau kerusakan lainnya yang timbul dari suatu kejadian yang tiba-tiba. Selain itu, disediakan juga jaminan atas kerugian sebagai akibat terganggunya usaha (business interruption) yang disebabkan kebakaran.

Jenis-jenis asuransi harta benda:

• Polis Standar Kebakaran Indonesia (PSKI)
Harta benda yang umumnya diasuransikan dengan jaminan PSKI adalah rumah tinggal, kantor, ruko, dll. Ganti rugi diberikan kepada tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda yang dipertanggungkan yang disebabkan oleh kebakaran, sambaran petir, ledakan, kejatuhan pesawat terbang, serta asap yang berasal dari kebakaran harta yang dipertanggungkan. Harta benda yang umumnya diasuransikan dalam polis PSKI adalah rumah tinggal, kantor, ruko, dll.

• Industrial All Risks (IAR) atau Property All Risks (PAR)
Jaminan dalam polis ini lebih luas dari pada jaminan di PSKI. Polis asuransi ini memberikan ganti rugi atas kerusakan atau kerugian harta benda yang dipertanggungkan yang disebabkan oleh peristiwa yang tiba-tiba dan tidak terduga kecuali oleh hal-hal yang dikecualikan di dalam pengecualian (Exclusion) di dalam polis. Jaminan yang diberikan oleh polis ini antara lain kerugian akibat bencana alam seprti banjir, tanah longsor, badai, dll. Property yang biasanya dipertanggungan dengan polis ini adalah pabrik, gedung perkantoran, hotel, apartemen, shopping center, dll.

PENGERTIAN ASURANSI


Seperti kita ketahui salah satu cara penanggulangan risiko adalah dengan mengasuransikan suatu risiko kepada perusahaan asuransi. Cara ini dianggap sebagai metode yang paling penting dalam upaya menanggulangi risiko. Karenanya banyak orang yang berpendapat bahwa manajemen risiko sama dengan asuransi. Padahal keadaaan yang sebenarnya tidaklah demikian.
Asuransi artinya transaksi pertanggungan, yang melibatkan dua pihak, tertanggung dan penanggung. Dimana penanggung menjamin pihak tertanggung, bahwa ia akan mendapatkan penggantian terhadap suatu kerugian yang mungkin akan dideritanya, sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan terjadi atau yang semula belum dapat ditentukan saat / kapan terjadinya. Sebagai kontraprestasinya si tertanggung di wajibkan membayar sejumlah uang kepada si penanggung, yang besarnya sekian prosen dari nilai pertanggungan, yang biasa disebut "premi".

SUDUT PANDANG DALAM PENGERTIAN ASURANSI

• SUDUT PANDANG DALAM PENGERTIAN ASURANSI

Ditinjau dari beberapa sudut, maka asuransi mempunyai tujuan dan teknik pemecahan yang bermacam-macam, antara lain:

a.Dari segi Ekonomi, maka :
Tujuannya : mengurangi ketidak pastian dari hasil usaha yang dilakukanoleh seseorang atau perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan.
Tekniknya : dengan cara mengalihkan risiko pada pihak lain dan pihak lain mengkombinasikan sejumlah risiko yang cukup besar, sehingga dapat diperkirakan dengan lebih tepat besarnya kemungkinan terjadinya kerugian.

b. Dari segi Hukum, maka :
Tujuannya : memindahkan risiko yang dihadapi oleh suatu obyek atau suatu kegiatan bisnis kepada pihak lain.
Tekniknya : melalui pembayaran premi oleh tertanggung kepada penanggung dalam kontrak ganti rugi (polis asuransi), maka risiko beralih kepada penanggung.

c. Dari segi Tata Niaga, maka :
Tujuannya : membagi risiko yang dihadapi kepada semua peserta program asuransi.
Tekniknya : memindahkan risiko dari individu / perusahaan ke lembaga keuangan yang bergerak dalam pengelolaan risiko (perusahaan asuransi), yang akan membagi risiko kepada seluruh peserta asuransi yang ditanganinya.

d. Dari segi Kemasyarakatan, maka :
Tujuannya : menanggung kerugian secara bersama-sama antar semua peserta program asuransi.
Tekniknya : semua anggota kelompok (kelompok anggota) program asuransi memberikan kontribusinya (berupa premi )untuk menyantuni kerugian yang diderita oleh seorang / beberapa orang anggotanya.

e. Dari segi Matematis, maka :
Tujuannya : meramalkan besarnya kemungkinan terjadinya risiko dan hasil ramalan itu dipakai dasar untuk membagi risiko kepada semua peserta (sekelompok peserta) program asuransi.
Tekniknya : menghitung besarnya kemungkinan berdasarkan teori kemungkinan ("Probability Theory"), yang dilakukan oleh aktuaris maupun oleh underwriter.
(Disarikan dari beberapa sumber)